Marta Linda Basuki Kini Jadi Bos Coklat Klasik Malang

Pengusaha Sukses Kuliner di Indonesia dengan Kisah Perjuanganya yang Inspiratif

MALANG [umkmnews.id] - Sudahkah Warga Negara Indonesia mengenal Martalinda Basuki Bos Coklat Klasik Malang, yang memulai bisnisnya sejak di bangku kuliah.


Dilansir dari berbagai sumber umkmnews.id kali ini akan membahas kisah inspiratif Martalinda Basuki yang akrab dipanggil Lala.


Dimulai kisahnya mendirikan cafe kekinian yang diberi nama Cokelat Klasik, Martalinda bahkan terpaksa harus menjual sepeda motor dan laptopnya sebagai modal awal.


Tak hanya itu, wanita kelahiran tahun 1991 ini juga memberanikan diri untuk mencari pinjaman agar rencana bisnisnya dapat terealisasikan.


Bermula dari membuka cafe di kawasan Kampung Inggris, Pare, Kediri, kini wanita yang akrab disapa Lala ini telah memiliki lebih dari 270 outlet yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesa dan menjadi bos dari ratusan pekerjanya. Wah, sungguh inspiratif sekali ya!


Sekilas penampilannya masih sangat anak muda banget. Paduan celana jins, jilbab, dan cardigan menjadi favorit outfit bagi Marta Linda Basuki. Gayanya energik. Siapapun tak bakal mengira jika perempuan yang akrab disapa Lala tersebut kini tengah ’mengemudikan’ 270 outlet Cokelat Klasik.


Dia menyebutkan, ide awal bisnisnya berawal dari hobi kuliner yang dia lakukan. Saking banyaknya lokasi kuliner di Malang, gadis kelahiran Jayapura itu menyatakan, Malang sebagai salah satu surganya kuliner di Indonesia.


Lala menjelaskan, 11 November 2011 lalu, dia memutuskan membuka kafe di Kampung Inggris yang ada di Pare, Kediri. Kafe tersebut dia namai ’Kafe Klasik’. Dia menceritakan, modal membuka kafe itu sebanyak Rp 95 juta. Modal itu dia dapatkan dari menjual motor, laptop, dan pinjam sana-sini ke saudaranya.


Bisnis pertama yang dia geluti ternyata gagal total. Sebab, dia mengakui jika terdapat kesalahan dalam project plan yang dilakukannya. ”Jadi siklusnya begini, Kampung Inggris di Kediri justru ramai ketika kampus di Malang libur. Sementara saat kampus Malang masuk, di sana sepi sekali. Nah, saya buka ketika bulan efektif kampus di Malang. Jadinya sepi banget,” kenang perempuan kelahiran 13 Maret 1991 tersebut.

Tak berselang lama, kafenya pun bangkrut. Apalagi orang tuanya juga tidak mendukung bisnisnya. Dia ingat sekali, saat itu modal yang dia miliki tinggal Rp 7 juta. Di tengah keputusasaan, gadis manis itu menimbang, apa penjualan terlaris di kafenya. ”Paling ramai saat itu adalah cokelat,” tukasnya.


Kreasi menu coklat pun juga tidak terlalu ribet. Contohnya, untuk membuat choco flute, maka tinggal memberi tambahan krim di atas cokelatnya. Di sela jurang keputusasaannya, ada salah satu teman yang meminta dia mengikuti kompetisi Wirausaha Baru yang digeber Bank Indonesia.


Dengan mengirim proposal wirausaha miliknya, dari 500 peserta, hanya 25 peserta yang akhirnya menjadi juara. Untuk bantuan pemodalan, dia mendapatkan bantuan Rp 15 juta. ”Kalau Bank Indonesia saja percaya dengan kemampuan saya, kenapa saya malah tidak optimis. Dari situ saya terpacu untuk bangkit,” katanya.


Dari situ, inspirasi membuat minuman cepat saji pun datang. Tepat 6 Oktober 2012, booth pertama Cokelat Klasik didirikan di Jalan MT Haryono. Untuk menarik pembeli, dia menghiasi booth-nya dengan lampu kelap kelip warna merah.


”Bagi saya, ini strategi marketing yang mudah namun cukup mengena. Sesuatu yang norak justru akan membuat orang makin tertarik untuk tahu. Nah, lampu kelap kelip begitu kan terkesan norak, tapi tetap sukses menarik perhatian,” papar dia.


Dari hari ke hari, bisnis itu pun makin berkembang. Mahasiswa Administrasi Publik FIA UB itu pun mengaku kewalahan. Apalagi, banyak orang yang ingin mendirikan Cokelat Klasik di luar kota. Saat itu, dia masih percaya diri untuk mengemudikan bisnis tersebut seorang diri dibantu beberapa saudaranya.


”Kalau masih di Malang, saya masih bisa kasih pelatihan. Tidak mungkin saya ke Kalimantan hanya untuk mengajari satu orang. Dari situ saya kemudian membuat standarisasi produk saya,” paparnya.


Usaha Lala dari hari ke hari terus berkembang. Namun namanya wirausaha, ada saja aral yang melintang. Salah satunya, ada pegawainya yang berada di jajaran pegawai inti melakukan tindak kejahatan. Saat ditinggal Lala keluar kota, si pegawai yang juga mahasiswa tingkat akhir salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Malang itu ’mengemudikan’ total kendali Cokelat Klasik. Tiap minggu, puluhan juta mengalir.


Uang milik Lala dibawa kabur oleh si pegawai itu. Beruntung Lala masih memiliki nomor ponsel milik orang tua si pegawai. ”Dari sana saya tahu, si anak ini memang sudah nakal dari dulu. Karena saya merasa dirugikan, saya bawa kasus ini ke ranah hukum,” ucap Lala.


Di titik tersebut, Lala mengalami kerugian beberapa puluh juta. Namun, ada hikmah lain yang dia dapatkan. Orang tuanya yang sudah bercerai mulai memerhatikannya. ”Mereka datang ke Malang untuk membantu saya melakukan packaging bahan baku saya. Dari situ saya terpacu untuk terus bangkit,” paparnya.


cokelat-mahasiswaMenggunakan sistem kemitraan, dia pun mulai berekspansi. Menawarkan beragam paket dengan harga terjangkau, pihaknya ingin merangkul orang-orang yang ingin berwirausaha. Saat ini, Cokelat Klasik memiliki 46 outlet yang tersebar di Gresik, Surabaya, Tulungagung, Solo, Balikpapan, Lampung, Padang, dan Kediri.


Berapa omzet yang didapatkan? Lala menyebut per bulan omzet kotor yang dia dapatkan berkisar di angka Rp 200 jutaan. Untuk omzet bersihnya, dia mengaku dalam sebulan bisa mendapatkan penghasilan Rp 30–40 juta.


Gaji puluhan juta itu tentu sangat besar bagi mahasiswa seperti dirinya. Dari situ, saat ini, dia mulai melakukan investasi dengan membeli rumah dan tanah. ”Saya masih fokus untuk pengembangan Cokelat Klasik ini,” lanjut dia.

Di sisi lain, jiwa bisnis Lala memang sudah tumbuh sejak usia muda. Saat dia masih duduk di bangku SMA, dia berkeinginan untuk merentalkan mobil milik orang tuanya. Namun usaha itu ditentang oleh orang tua Lala.


Dasar jiwanya tak bisa dibendung, Lala nekat saja untuk berwirausaha. Tanpa menghitung risiko hilang dan lainnya, mobil milik ayahnya direntalkan. ”Suatu saat mobil itu dipinjam klien saya. Nah, papa telepon bilang mobilnya di mana, saya bilang saja mobilnya sedang saya pakai,” kata anak salah satu kapolsek di jajaran Polres Kediri tersebut.


”Eh lha kok papa kemudian mengirim BBM ke saya dan memotret mobilnya yang sedang dia tilang di Kediri. Aduh, saya langsung diminta menghadap. Nah, saat menemui papa saya, saya berikan uang hasil rental mobil ke papa saya. Dari situ papa tahu jiwa bisnis saya,” pungkasnya. [ads001]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama